Sebanyak 14 pelajar dan 4 orang dewasa dibawa ke Mapolres lantaran kedapatan nongkrong di warkop. (Joko Pramono for Jatim Times)
Sebanyak 14 pelajar dan 4 orang dewasa dibawa ke Mapolres lantaran kedapatan nongkrong di warkop. (Joko Pramono for Jatim Times)

Untuk mencegah penyebaran corona (covid-19), tim gabungan polisi, TNI, dan Satpol PP Kabupaten Tulungagung melakukan razia bersama ke sejumlah warung kopi (warkop), Kamis (26/3/2020) malam. Hasilnya, 18 orang yang kedapatan nongkrong di warkop langsung diangkut ke Mapolres Tulungagung.

"Tadi kami bawa 18 orang yang nongkrong di warkop," ujar Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia selepas jalannya razia.

Sebanyak 14 dari 18 orang itu masih berstatus pelajar. Dengan tegas, kapolres mengatakan bahwa pelajar diliburkan bukan untuk keluar rumah, namun belajar di rumah untuk menghindari tertular covid-19.

Kebanyakan pelajar itu kedapatan di warkop sedang main game online, bukan mengerjakan tugas sekolah.

Untuk memberikan efek jera, seluruh pelajar dihukum push up. Untuk pulang, mereka harus dijemput orang tua masing-masing.

"Kami hukum push up. Orang tuanya kami panggil. Buat surat pernyataan, baru mereka boleh kembali (pulang),” kata kapolres.

Kapolres meminta agar orang tua lebih memperhatikan anaknya dengan meminta mereka tetap di rumah untuk belajar.

Warung kopi yang kedapatan buka langsung ditutup oleh petugas sembari menempelkan maklumat kapolri tentang larangan berkumpul selama mewabahnya virus corona.

Sedangkan pemilik warkop dibawa ke napolres untuk dilakukan pembinaan. Pasalnya, pemilik warkop tetap ngeyel buka dan melayani pembeli yang nongkrong di warkop.

"Pemilik warkop ada beberapa yang dibawa. Kami mintai keterangan dan buat surat keterangan bahwa mereka akan menutup warung kopinya sementara sampai ada pemberitahuan lebih lanjut," kata kapolres.

Warkop, lanjut kapolres, merupakan tempat yang biasa dijadikan tempat berkumpul warga. Warkop biasanya juga menyediakan wifi yang digunakan pengunjung untuk bermain game.

Apalagi di wilayah Tulungagung yang dikenal dengan budaya "nyethe". Nyethe adalah melukis rokok dengan menggunakan ampas kopi yang lazim di Tulungagung.

Polisi juga melakukan penyemprotan disinfektan pada benda yang ada di warkop, seperti kursi dan meja.

Sebelumnya, petugas gabungan juga melakukan hal serupa, namun dengan sasaran kafe dan warung makan.

Kepada pengunjung yang sedang pesan makanan, polisi meminta agar makanannya dibungkus dan dibawa pulang. Demikian pula pengelola tempat makan atau kafe, diminta untuk tidak melayani makan di tempat.

Namun diakui Pandia, yang cukup sulit adalah pusat perbelanjaan. Sebab, masyarakat butuh mengakses kebutuhan bahan pokok untuk konsumsi. “Pusat perbelanjaan bisa menyediakan hand sanitizer, tempat cuci tangan, atau bahkan bilik sterilisasi,” ujar  Pandia.

Sejumlah acara hajatan warga juga dipastikan batal karena larangan berkumpul selama wabah virus corona.

Namun yang paling mengkhawatirkan adalah para pekerja migran yang akan mudik menjelang Idul Fitri Mei mendatang. Diperkirakan akan ada 12.000 hingga 14.000 pekerja migran yang pulang kampung ke Tulungagung.

Sebelumnya telah terjadi gelombang kepulangan TKI dari Malaysia setelah negara itu melakukan lockdown. Para pekerja migran tidak bisa bekerja selama masa lockdown sehingga memilih pulang ke Indonesia.

Karena itu, Kapolres memerintahkan semua bintara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (bhabinkamtibmas) untuk memantau pekerja migran yang mudik ke desa-desa. “Sudah ada grup WA (Whatsapp) untuk update pentauan TKI di desa tempatnya masing-masing,” pungkas Pandia.